Tubuh dan Hunian: Rumah, Politik dan Lingkungan Performatifnya

Tulisan ini merupakan sari dari diskusi dan peluncuran zine Sandi/Wara yang telah berlangsung pada hari Minggu, 17 Mei 2020, pukul 20.00-23.00 WIB, di aplikasi Zoom Meeting. Seluruh teks ini ditulis oleh Riyadhus Shalihin, salah satu redaksi Sandi/Wara sekaligus moderator pada diskusi tersebut. Tulisan ini merupakan upaya menata dan menyusun apa-apa yang tertangkap, dan mengabaikan yang lepas dan hilang. Tulisan pendek ini tidak hendak menyimpulkan keseluruhan materi diskusi, baik pemaparan yang berasal dari narasumber maupun tanggapan dari para partisipan. Oleh karena itu, tulisan ini adalah penatataan dan penyusun tak utuh. Tak lengkap. Selintas.

Foto: Prasetya Yudha
Foto: Prasetya Yudha

Beberapa arsiran percakapan yang bisa kami lihat dalam pertemuan antar penulis, pembaca dan editor Sandi/Wara adalah perluasan dari apa yang bisa kita kenali sebagai performatifitas, atau hubungannya dengan situasi sehari-hari: peristiwa. Pada dekade 1970-an, D.A Peransi menegaskan bahwa karya seni telah dilepaskan dari abstraksi yang mengurungnya, menjadi kenyataan sebagaimana kenyatan lain yang mengelilingi kita[1]. Teater, tari, seni rupa akhirnya menjadi sejajar di dalam satu garis horizon percakapan.
 
Misalnya bagi Danarto yang melihat sumber bagi praktik tari tak lain adalah dunia sehari-hari kita: gerakan-gerakan yang terjadi di kebun, daun yang bergoyang dihembus angin, tembok yang merekah karena ada biji yang memecahkannya, arus sungai yang menghantarkan lumpur ke tepi-tepinya, biji kapas yang pecah dan menghamburkan bahan kain yang serupa salju, tanah longsor, biji yang menjelma buah yang lezat[2]. Melalui kutipan tersebut, kita melihat bahwa sesuatu yang sehari-hari (sumber gerak: biji pecah, arus sungai, tanah longsor, goyang daun) adalah ensiklopedi yang dekat, dan bisa menjadi kosa-gerak yang tak akan ada habisnya.
 
Perluasan inilah yang sedang coba kami rumuskan dalam memasuki perilaku sehari-hari. Dalam kasus Sandi/Wara edisi 1 ini, kami mengikat tema “Rumah” sebagai pengamatan yang dekat (personal) dan sekaligus juga (pengalaman) politis. Misalnya pada percakapan Eka Putra Nggalu mengenai relasi ikatan tubuh dengan rumah dari masyarakat timur, yang senantiasa siaga berhadapan dengan iklim (di mana bencana bisa datang kapan pun) turut membentuk cara pandang lain dalam melihat kota; meneropong Jawa dari kawasan ‘pinggir’.
 
Sementara apa yang dilakukan Ayos Purwoaji dalam melihat lingkungan kewargaan suku Bajo di Pulau Bungin mengingatkan kita pada tatapan tamu yang sudah berlangsung sangat lama, yaitu penulisan wilayah-wilayah yang dianggap asing di dalam sejarah antropologi kolonial. Melalui praktik pengarsipan dan budaya tulis menulis itulah yang kemudian menghasilkan warisan taksonomi, sebuah warisan dari ‘Historical Other’ yang berasal dari perspektif orang kulit putih. Pembacaan ini tidak untuk mengatakan bahwa Ayos sedang melakukan peliyanan, tapi justru untuk melihat selisih dan tegangan dari ‘orang luar’ yang coba menuliskan kebudayaan lain, yang asing dan berada di luar dirinya. Tapi apa yang dimiliki dan embodied hanya dimiliki oleh tubuh Bajo itu sendiri, adalah tubuhnya sendiri sebagai pengetahuan, sebagai repertoar. Seperti juga orang latihan tari di Bali, di mana murid mengikat kakinya di kaki sang guru, dan dari sana dilakukan pewarisan pengetahuan dan gerakan[3].
 
Afrizal Malna berkisah mengenai rumah-rumah perkotaan di Pulau Jawa, yang tak memiliki halaman belakang kebudayaan, bahwa rumah bukan lagi tubuh seperti di dalam tradisi arsitektur vernakular. Afrizal mengimajinasikan bahwa ruang depan, ruang tengah, dan dapur sebagai metafor dari tubuh. Ketika berada di luar rumah, warga menyentuh bagian tertentu dari tubuh, untuk menjamin bahwa rumahnya baik-baik saja. Tubuh dan rumah di perkotaan hanya ditentukan oleh durasi hari ini dalam mengatasi perlombaan dalam kepadatan, orang kota hidup untuk hari ini. Tak heran bila menengok kaitan antara keberadaan gunung api dan kepadatan penduduk yang telah disebutkan oleh ECJ Mohr dalam The Relation Between Soil and Population Density in The Netherlands Indies (1938), bahwa tingkat kepadatan penduduk di Indonesia di masa lalu ditentukan oleh keberadaan gunung api. Material vulkanik yang dimuntahkan gunung api aktif memberikan manfaat penting bagi kesuburan tanah pertanian. Pulau Jawa sebagai kawasan yang memiliki banyak gunung api aktif, dipadati pemukiman penduduk karena merupakan sumber bagi kehidupan.[4]
 
Penyari diskusi
Riyadhus Shalihin
 


[1] D.A. Peransi, “Lee? Levi? Amco? Texwood? (Seni Lukis Kita Masa Kini dalam Pertimbangan Kritis)”, Sinar Harapan, 04 Januari 1975.
[2] Hendro Wiyanto, ‘Seni dan Peristiwa’ Jurnal Kalam 21/2015.
[3] ‘Performing & Performance Art, Performance and Performativity’,Catatan Pendengar atas Lokakarya Bina Asana Kuratorial Seni Performans, Biennale Yogyakarta – 2020, yang difasilitasi oleh Joned Suryatmoko.
[4] Fadly Rahman, “Tumbuh setelah Bencana”: Perkembangan Penelitian Botani di Hindia Belanda Sesudah Erupsi Krakatau Tahun 1883, Jurnal Sejarah. Vol. 2(2), 2019.
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *